PIDATO PENGARUH INTERNET TERHADAP REMAJA
Assalamualaikum wr wb, Bapak/ ibu guru beserta rekan-rekan yang saya hormati, pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada tuhan yang maha esa yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul ditempat ini, saya ucapkan banyak terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk menyampaikan sebuah pidato yang berjudul “Pengaruh Internet Terhadap Remaja”.
Sebelum saya memulai berpidato saya ingin menyampaikan batasan masalah yang akan saya sampaikan didalam pidato hari ini, yakni diantaranya ; pengaruh internet terhadap remaja dilihat dari segi positif dan dari segi negative.
Internet, kata yang tidak asing di telinga setiap orang, terutama para remaja yang senantiasa bergaul dengan mewahnya dunia yang bertekhnologi, mewah, dan praktis, Internet bisa didapatkan dimanapun kita berada, dengan bermodalkan telepon selular yang memiliki koneksi internet, internet dapat diakses dengan mudahnya melalui HP dimanapun kita berada, atau jika tidak, disetiap sudut kota pasti terdapat sebuah Warung yang menjual jasa internet atau yang biasa disebut dengan “Warnet”, Dunia Informasi Tanpa Batas, begitulah orang-orang menyebutnya, saya sendiri tidak begitu yakin tapi apa boleh dikata memang begitu keadaannya, dengan adanya Internet, Akses atau jalan terhadap penyampaian Informasi-informasi yang ada didunia ini dapat diambil dengan mudahnya seraya membalikkan tangan atau mengejapkan mata.
Banyak Ilmu pengetahuan yang begitu melimpah disana, informasi mengenai apapun dapat kita temukan di jagat internet ini, lalu apa hubungannya dengan Siswa? Tentu saja sangat erat hubungannya dengan siswa karena siswa tidak luput dengan yang namanya informasi dan ilmu pengetahuan, internet ini adalah media yang paling efektif dan mudah untuk didapatkan dan diakses oleh siapa saja dimanapun, walaupun tak dapat dipungkiri bahwa karena adanya kebebasan ini dapat terjadi pula penyalah gunaan fasilitas internet sebagai sarana untuk Kriminalitas atau Asusila, siswa yang baru mengenal internet biasanya menggunakan fasilitas ini untuk mencari hal yang aneh-aneh? Seperti gambar-gambar yang tidak senonoh, atau video-video aneh yang bersifat “asusila” lainnya yang dapat mempengaruhi jiwa dan kepribadian dari siswa itu sendiri, sehingga siswa terpengaruh dan mengganggu konsentrasinya terhadap proses pembelajaran disekolah.
Namun demikian tidak semua siswa melakukan hal yang demikian, hanya segelintir siswa-siswa yang usil saja yang dapat melakukannya karena kurang memiliki rasa tanggungjawab terhadap diri pribadi dan sekitarnya, namun pada umumnya internet digunakan oleh setiap siswa untuk mencari atau mendapatkan informasi yang berhubungan dengan materi pelajaran yang ia terima disekolah, hal tersebut memungkinkan siswa menjadi lebih kreatif dan lebih aktif dalam mencari sumber informasi dan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan siswa-siswa yang hanya duduk diam didepan meja dan mendengarkan gurunya berbicara.
Hal ini dapat menjadi sebuah motivator terhadap siswa untuk terus berkembang dan juga dapat berfungsi sebagai penghancur (generasi muda), remaja adalah makhluk yang rentan terhadap perubahan disekitarnya, dia akan mengikuti hal yang paling dominant yang berada didekatnya jadi kemungkinan terjadinya perubahan yang drastis dalam masa-masa remaja akan mendorong kearah mana remaja itu akan berjalan, kearah positif atau negative tergantung dari mana di memulai.
Remaja yang kesehariannya bergaul dengan internet akan lebih tanggap terhadap perubahan informasi disekitarnya karena ia terbiasa dan lebih mengetahui tentang informasi-informasi tersebut sehingga dia lebih daripada yang lainnya. Tetapi selain itu, remaja yang memiliki kecenderungan pada hal yang negative justru sebaliknya, dia akan nampak pasif karena hanya diperbudak oleh kemudahan dan kayaan informasi dari internet tersebut.
Maka dari itu alangkah baiknya jika kita bisa dengan bijak menggunakan fasilitas ini dengan sebaik-baiknya dalam hal yang positif demi kemajuan diri dan pribadi kita, dan selaku remaja kita semua harus dapat menguasai teknologi yang sedang berlari kencang pada era ini, karena dengan demikian kita pun akan ikut berlari menyongsong masa depan.
Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih, akhirul kata, wassalamualaikum wr wb.
Pidato PENGARUH TELEVISI TERHADAP SISWA
Assalamualaikum wr wb, Bapak/ ibu guru beserta rekan-rekan yang saya hormati, pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada tuhan yang maha esa yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul ditempat ini, saya ucapkan banyak terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk menyampaikan sebuah pidato yang berjudul “Pengaruh Televisi Terhadap Siswa”. Sebelum saya memulai berpidato saya ingin menyampaikan batasan masalah yang akan saya sampaikan didalam pidato hari ini, yakni diantaranya ; pengaruh televisi dari segi positif dan negatif.
Bila kita melihat secara umum pengaruh televisi terhadap siswa memang tanpak sangat berguna dan bermakna karena media televisi ini merupakan sarana penyampaian informasi yang paling efektif dan efisien, efektif dari segi penyampaian informasi dan efisien dari segi harga untuk memperoleh informasi tersebut. Dengan media televisi wawasan dan ilmu pengetahuan seorang siswa dapat berkembang dengan pesat sejalan dengan perkembangan teknologi yang ada. Banyak hal positif yang dapat diambil dari adanya media televisi ini yakni diantaranya seperti, informasi mengenai berita terkini, ilmu pengetahuan umum, Entertainmen/ hiburan, dan lain sebagainya.
Seorang siswa hendaknya selalu mengetahui informasi terkini yang terjadi didunia guna menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dari siswa itu sendiri, yang dapat ia gunakan untuk mengembangkan dirinya dimasa yang akan datang, karena dengan informasi manusia dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya, sedangkan untuk bidang entertainment/ hiburan, hal ini tentu saja berfungsi untuk mengurangi rasa penat atau rasa bosan pada setiap siswa didalam masa remajanya atau dalam masa-masa belajarnya, mengapa demikian? Karena setiap siswa yang sedang berkembang akan mengalami satu hal yang namanya ”bosan” dan hal ini perlu dicegah dengan kegiatan yang sifatnya menghibur/ refleksi yang dapat membuatnya selalu ”Fresh” dan berfikir positif, sehingga menjadikan ia selalu aktif dan kreatif.
Selain dari wawasan dan ilmu pengetahuan yang dapat diperoleh siswa dari media televisi, keakraban antar keluarga akan tercipta sehingga membuat siswa merasa nyaman berada diantara keluarganya, karena keluarga juga merupakan salah satu faktor utama penentu keberhasilan diri seorang siswa, selain hal itu orang tua juga dapat mendidik anak-anaknya dengan lebih mudah melalui media televisi dan orang tua tersebut lebih mudah memberikan pengarahan terhadap anak sehingga anak akan merasa tidak terbebani untuk memahami apa yang diinginkan oleh orangtuanya. Hal-hal tersebut merupakan salah satu yang dapat kita rasakan/ lihat dari segi positif dampak televisi terhadap siswa, tetapi selain itu banyak hal-hal negative yang dapat terjadi jika siswa telah terpengaruh oleh televisi, diantaranya adalah malas, mencontoh hal-hal yang tidak baik/ negatif seperti cara bergaul, berbicara, berpenampilan, serta pribadinya.
Malas adalah hal yang paling sering terjadi jika seorang siswa sudah terpengaruh oleh asyiknya menonton televisi sehingga melupakan belajarnya, dan hal ini merupakan hal yang sangat merugikan bagi siswa itu sendiri karena dengan bermalas-malasan dia tidak akan mendapatkan apa-apa dan apa yang ia cita-citakan dalam hidupnya, maka dari itu alangkah baiknya orang tua membatasi waktu menonton televisi dan menyaring tayangan yang sesuai dengan kebutuhan sang anak, selain malas pengaruh buruk televisi terhadap tingkah laku anak yakni mencontoh hal yang tidak seharusnya di contoh, misalkan anak usia dibawah lima tahun menonton tayangan televisi untuk orang dewasa, tentu hal ini sangat ”berbahaya” karena anak bisa dewasa sebelum dewasa, maksudnya adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa tidak seharusnya dicontoh oleh anak kecil, seperti Kekerasan, gaya hidup seperti berpenampilan, bergaul, dan gaya-gaya berbicara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang baik, dan lain sebagainya. Hal ini juga memerlukan kontrol dari orang tua untuk tayangan yang sifatnya dewasa seperti itu. Jika hal negativ tersebut sudah terjadi maka selanjutnya dapat kita lihat kepribadian dari siswa itu sendiri akan berubah dan ”Kemungkinan” merugikan bagi semua pihak termasuk dirinya sendiri.
Kesimpulannya bahwa, setiap hal yang ada didunia ini pasti memiliki aturan dan pandangan yang berbeda yakni, baik dan buruk, begitupun dengan media televisi, yang selayaknya digunakan untuk hal yang baik tetapi tetap saja memiliki dampak yang tidak baik bagi sebagian orang dan atau fungsinya. Maka dari itu peranan orang tua untuk mendidik anak (siswa) sangatlah penting serta kesadaran dari siswa itu sendiri haruslah tinggi dan bertanggung jawab atas apa yang hendak ia lakukan dengan bimbingan dari guru dan kegiatan-kegiatan positif yang dia lakukan selama dia berada dilingkungan sekolah.
Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih, akhirul kata, wassalamualaikum wr wb.
atatan: Contoh pidato diatas ditulis dengan sudut pandang tempat dan pelaku orang lain, jadi silahkan sesuaikan sesuai kebutuhan :)
Dalam Bentuk Lamaran Pekerjaan
===========================
Jakarta, 2 November 2010
Hal : Lamaran Pekerjaan Kepada Yth.,
Manajer Sumber Daya Manusia
PT. Hand's Parmantindo
Jl. Raya Bumi Sentoda No. 5
Jakarta
Dengan hormat,
Bpk. Bambang Satrio, seorang asisten editor di PT. Hand's Parmantindo, menginformasikan kepada saya tentang rencana pengembangan Departemen Finansial PT. Hand's Parmantindo.
Sehubungan dengan hal tersebut, perkenankan saya mengajukan diri (melamar kerja) untuk bergabung dalam rencana pengembangan PT. Hand's Parmantindo.
Mengenai diri saya, dapat saya jelaskan sebagai berikut : Sehubungan dengan hal tersebut, perkenankan saya mengajukan diri (melamar kerja) untuk bergabung dalam rencana pengembangan PT. Hand's Parmantindo.
| Nama Tempat & tgl. lahir Pendidikan Akhir Alamat Telepon, HP, e-mail Status Perkawinan | : Dede Soegiarto : Magetan, 23 Desember 1989 : Sarjana Sistem Informasi Universitas Gunadarma - Jakarta : Perum Bojong Depok Baru 1, Blok ZT No.3, Jakarta16913 : 021 - 87903802, HP = 0817 9854 203, e-mail = Bedebah@gmail.com : Menikah. |
Saat ini saya bekerja di PT. Flamboyan Bumi Singo, sebagai staf akuntasi dan perpajakan, dengan fokus utama pekerjaan di bidang finance dan perpajakan.
Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan : - Daftar Riwayat Hidup.
- Foto copy ijazah S-1.
- Foto copy sertifikat kursus/pelatihan.
- Pas foto terbaru.
Besar harapan saya untuk diberi kesempatan wawancara, dan dapat menjelaskan lebih mendalam mengenai diri saya. Seperti yang tersirat di resume (riwayat hidup), saya mempunyai latar belakang pendidikan, pengalaman potensi dan seorang pekerja keras.
Demikian saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian Bapak.
hormat sayaDede Soegiarto
=========================================================================
Contoh Bahasa NonFormaL
dalam bentuk Cerpen
Profesinya sebagai pencabut nyawa
===========================
Ada yang menganggap dirinya monster, tetapi di mata pasien yang sudah tak berpengharapan dia adalah penyelamat. Sudah lebih dari 100 orang ‘diselamatkan’ dr. Jack Kevorkian. Tapi mengapa dokter ini dijuluki ‘dr. Kematian’?
Empat tahun lalu Judith Curren yang sudah 19 tahun menderita, dengan susah payah menulis surat kepada dr. Kevorkian. Surat yang tulisannya seperti cakar ayam itu berbunyi, “Tolong akhiri hidup saya yang penuh derita ini.”
Setelah menunggu sekian lama, baru kini di Quality Inn—sebuah motel kecil di utara Detroit, Amerika—permintaan Judith itu dikabulkan. Dr. Kevorkian menyiapkan jarum dan botol-botol infus yang akan membuat Judith (42) koma dan meninggalkan dunia fana. Sementara itu Janet Good, sang asisten, menyiapkan kamera video untuk merekam pernyataan keinginan terakhir pasiennya. Dr. Kevorkian menjelaskan, bila Judith sudah siap, ia tinggal menggerakkan tuas, dan dalam tempo seketika cairan infus yang mematikan akan masuk ke pembuluh darahnya.
Suami Judith, Franklin Curren (57), psikiater di Boston, mulanya menentang keinginan istrinya. Tetapi ketika kondisi istrinya makin memburuk—akibat sering tidak bisa tidur, asma yang berulang kambuh ditambah serangan demam, tak tahan cahaya, tak tahan bising, kaki mati rasa—ia akhirnya menyerah.
Malam sebelum menemui dr. Kematian (dr. Death), mereka menginap di hotel. Malam terakhir itu dilewatkan dengan membicarakan penyakit yang diderita Judith, juga tentang perkawinan mereka yang sudah berjalan 10 tahun, dan tentang anak perempuan mereka yang kini berumur 12 dan 9 tahun.
“Sekali lagi saya mencoba membujuk dia untuk membatalkan niatnya,” ujar Franklin. “Saya bilang padanya, seandainya dia pasien saya, mungkin saya bisa menerima keputusan itu; tapi sebagai suami saya tidak bisa menerimanya.” Tidak mengherankan bila malam itu menjadi malam yang penuh tangis. Mereka pun kurang tidur.
“Terima kasih, dr. Kevorkian.”
Bagi Kevorkian yang buka praktek semacam ini sejak Juni 1990, kasus Judith Curren agak rumit. Tidak seperti pasien-pasiennya yang lain, Judith tidak menderita kanker stadium lanjut yang tak ada obatnya. Dia pun bukan penderita kelumpuhan total. Judith menderita penyakit aneh. Berbagai dokter top di Amerika selalu bilang, Judith cuma menderita sindrom kelelahan kronis. Meski penyakitnya sendiri tidak mematikan, menurut hasil pemeriksaan laboratorium, daya tahan tubuh Judith selemah pasien AIDS.
Berbagai terapi, mulai dari obat sampai psikoterapi sudah dijalani, tapi rasa sakit tak juga berkurang. Semua ahli menganjurkan agar dia dimasukkan ke ‘panti perawatan’ (khusus untuk pasien yang tidak dapat sembuh) saja. Itulah sebabnya dr. Kevorkian semula sulit menerima Judith sebagai pasien.
Saat Kevorkian bersiap-siap memasang jarum infus yang dihubungkan ke tiga buah botol, Judith dan suaminya saling berciuman. Setelah itu, Judith menyandarkan tubuhnya dan menggerakkan tuas mesin pembunuh dengan mantap. Ia lalu menatap sang dokter. “Terima kasih, Dokter Kevorkian,” itulah kata-kata terakhirnya. Ia tertidur dan akhirnya meninggal.
Judith Curren adalah pasien Kevorkian yang ke-35. Seperti pasien-pasien lainnya, setelah meninggal jenazah Judith dibawa ke RS Pontiac Osteopatic. Pihak kejaksaan kemudian minta agar dr. Kevorkian yang berusia 72 tahun mempertanggung-jawabkan perbuatannya di pengadilan.
Sampai saat ini, sudah tiga kali Kevorkian diajukan ke pengadilan sehubungan dengan perbuatannya, namun selalu dinyatakan bebas.
Pemunculannya di pengadilan sering menjadi headline surat kabar dan TV, sehingga ia terkenal di seantero Amerika. Bahkan menurut jajak pendapat, namanya kini sama terkenalnya dengan Bill dan Hillary Clinton, presiden Amerika dan isrinya itu.
Akhir tahun lalu, ia kembali bikin heboh ketika stasiun TV CBS menayangkan rekaman aksinya terhadap Thomas Youk (52), penderita kelumpuhan total yang tidak dapat disembuhkan. Dalam rekaman itu tampak Kevorkian minta izin kepada Thomas untuk memberikan tiga suntikan mematikan. Ini ‘aksi pembunuhan aktif’ pertama yang dilakukannya. Setelah itu, wartawan bertanya apa yang kemudian akan terjadi. Dijawab, “Dia akan segera meninggal.” Memang tak lama kemudian kepala Thomas terkulai dengan mata terpejam.
Pahlawan atau Monster?
==================
Sudah lama dr. Kevorkian selalu mengenakan kacamata hitam agar tidak dikenali orang. Di restoran, ia senantiasa memilih tempat di pojok. Kalau sampai dikenali, ia sering diperlakukan sebagai selebriti.
Memang, sebagian orang mengelu-elukan dia sebagai pahlawan. Bagi mereka, dialah pejuang ‘hak terakhir’ manusia yang tidak mau menghabiskan sisa hidup di panti perawatan atau hidup di antara selang dan mesin sebelum akhirnya meninggal juga.
Sebagian lagi, rekan-rekan seprofesinya, memandang Kevorkian sebagai monster. Oleh gereja ia pun dikecam. Namun, ia tak peduli. “Mereka diam saat ada orang bunuh diri. Tapi ketika seorang dokter menolong seseorang yang menderita, kenapa mereka malah ribut minta pertanggungjawaban?” ujarnya geram. Jelas dia sadar, sedikit saja membuat kesalahan, dia akan dijebloskan ke penjara.
Sepanjang kariernya, dr. Kevorkian tak hanya sekali dua terlibat konflik. Ketika baru menjadi dokter patologi, belum berusia 30 tahun, ia memprotes sikap kolega-kolega yang tega melakukan percobaan kedokteran terhadap para terpidana mati. Dia juga pernah bereksperimen melakukan transfusi darah dari jenazah ke pasien. Alasannya, siapa tahu cara ini dapat dilakukan di medan peperangan di mana tak tersedia tempat penyimpanan darah. Dia juga pernah melemparkan ide penjualan organ terpidana mati dengan cara lelang.
‘Dr. Death’ telah berhubungan dengan jenazah hampir sepanjang hidupnya. Sebagai patolog, ia mencoba mencari metode sederhana untuk mengetahui saat yang pasti manusia dapat dikatakan meninggal. Selain itu, baginya jenazah merupakan ‘laboratorium’ yang paling canggih dan murah.
Tetapi gara-gara pemikirannya yang berbau horor ini ia dijauhi rekan-rekan sejawat dan ditolak para pemilik klinik. Akibatnya, Kevorkian yang meniti kariernya di Michigan terpaksa harus sering pindah kerja sampai ke California. Baru menjelang pensiun ia kembali ke Detroit.
Pertama kali di mobil
================
Di sinilah ia mulai bertualang dengan kematian. Awalnya, pada musim panas 1989, di TV ia menonton penayangan seorang pria lumpuh (dari leher sampai kaki) berusia 38 tahun yang mengatakan ingin mengakhiri hidupnya. Orang itu mohon agar ada orang yang mau mematikan mesin pernapasannya. Dr. Kevorkian memutuskan mau menolong orang itu.
Ia lalu mulai bekerja membuat ‘mesin maut’, berupa alat yang dilengkapi tiga botol infus masing-masing berisi garam dapur, obat tidur thiopental, dan kalium klorida. Begitu larutan-larutan itu mengalir ke tubuh pasien, dalam waktu beberapa menit saja ia akan tewas. Rencananya, pria itu harus mengoperasikan mesinnya sendiri dengan cara membetot seutas tali yang tersedia dengan giginya untuk mengalirkan cairan infus. Sayang, pria itu keburu meninggal sebelum ia sempat menolongnya.
Karena ingin mencoba mesin temuannya, Kevorkian mengirimkan iklan di koran setempat. Bunyinya, “Adakah anggota keluarga Anda yang sakit parah dan ingin mengakhiri hidupnya? Hubungi....” Iklan itu ditolak, tapi pemilik koran penasaran dan malah mengirim wartawan untuk melihat mesin ciptaannya sekaligus mewawancarainya. Demikianlah, ia malah memperoleh promosi gratis.
Akhir tahun 1989, Kevorkian mendapatkan pasien pertama yakni Janet Adkins (54), seorang penderita alzheimer. Meski jadi sangat pelupa, Janet masih mampu bermain tenis dengan anak-anaknya. Kevorkian menilai wanita ini bukan pasien yang tepat.
Namun, Janet dan suaminya terus-menerus merengek. “Ketika itu, saya benar-benar dihadapkan pada keputusan yang sulit!” ujar Kevorkian. Akhirnya, ia setuju menerima Janet sebagai pasiennya. Namun, tak sebuah hotel pun mau menerima kamarnya dijadikan tempat ‘pembunuhan’. Biro pemakaman menolak, dewan gereja yang liberal di daerah itu pun idem. Janet Good, asisten dr. Kevorkian dan juga pendiri ‘Organisasi Hak untuk Mati’ juga menolak, karena suaminya, mantan polisi, keberatan di rumahnya terjadi tindakan melawan hukum.
“Setelah mencoba ke sana kemari, tak satu tempat pun mau menerima, kami memutuskan untuk melakukannya di mobil VW yang diparkir di depan rumah saya,” kenang Kevorkian.
Sehari sebelum ‘eksekusi’, di depan kamera video wanita pemalu yang tak mau mengakhiri hidupnya dengan minum obat tidur tapi lebih memilih ‘pergi’ dengan ‘mesin pembunuh’ itu, menyatakan dia ingin mengakhiri penderitaannya yang makin lama makin hebat. Ia sempat terdiam sejenak, karena mengingat-ingat kata ‘mati’. Malam harinya, Janet dan suaminya makan malam bersama dilanjutkan minum-minum sampai mabok. Keesokan harinya, 4 Juni 1990, Janet siap untuk ‘berangkat’. Sekali lagi, ia mencium suaminya dan mengucapkan salam perpisahan.
Sementara itu, dr. Kevorkian yang baru pertama kali ‘buka praktek’ tampak senewen sampai menyenggol ampul obat tidur yang akan membuat Janet koma. Setengah isi obat itu tumpah, tapi untung ia membawa cadangan.
Kevorkian berkali-kali mencoba mesinnya hingga membuat Janet Adkins tak sabar. Ketika akhirnya pengetesan selesai, prosesnya tertunda lagi karena jarum infus sulit masuk ke pembuluh nadi pada tangan Janet. Setelah berhasil masuk, Kevorkian masih bertanya lagi, “Apakah Anda masih mau meneruskan?”
“Katakan saja bagaimana saya harus menggerakkan tuasnya,” sahut Janet.
Sekali lagi dr. Kevorkian bertanya, “Anda yakin?”
“Ya!” sahutnya lagi.
Setelah menggerakkan tuasnya, ia merentangkan tangannya dan cairan dalam botol infus pun mengalir ke tubuhnya.
“Terima kasih!” ujar Janet sambil melengkungkan tubuhnya seolah-olah ingin mencium dr. Kevorkian. Kemudian kepalanya terkulai.
“Selamat jalan!” ujar dr. Kevorkian.
Kulit Janet Adkins pun kemudian berubah menjadi abu-abu. Beberapa menit monitor pengukur aktivitas jantung menampakkan garis lurus menandakan Janet telah tiada.
Diserbu Polisi
===========
Sejak saat itu, Jack Kevorkian memperoleh julukan ‘Dr. Death’. Sampai saat ini sudah 130 pasien yang ditolongnya. Kadang dilakukan secara terbuka, kadang tertutup atas permintaan keluarga pasien.
Dulu publik Amerika masih merasa tabu membicarakan masalah ‘penjagalan’ ini, kini tidak lagi. Menurut beberapa pengritik, mesin pembunuh ciptaan dr. Kevorkian yang sederhana ini, meski di satu sisi menyelesaikan masalah kompleks di seputar pasien, di sisi lain berpotensi mendatangkan masalah juga. Beberapa mengkhawatirkan terjadinya situasi seperti dalam novel ‘Animal Farm’-nya George Orwell yang terkenal itu. Bisa saja ada pihak tertentu yang kemudian memanfaatkan organ-organ tubuh pasien dr. Kevorkian. Begitu pun menurut jajak pendapat, sebagian besar penduduk Amerika oke-oke saja terhadap aksi dr. Kevorkian.
Kini setiap bulan dr. Kevorkian mendapat 50-100 pucuk surat dan telepon ‘lamaran’ dari orang-orang yang ingin menjadi pasiennya. “Tapi kami sangat selektif dalam memilih pasien karena setiap tindakan kami tak lepas dari intaian polisi bersenjata lengkap,” ujar dr. Kevorkian.
Sekali peristiwa pada 6 September 1996 di Quality Inn di Bloomfield—tempat Judith Curren dan beberapa pasien dr. Kevorkian mengakhiri hidupnya—Kevorkian sedang memberi tahu proses ‘keberangkatan’ pada Issabel Correa (60), penderita kelainan sumsum tulang belakang, ketika tiba-tiba enam orang polisi menyerbu masuk.
Mereka memeriksa dus-dus botol infus dan kaset yang berisi rekaman keinginan para pasiennya. Setelah memeriksa semua yang hadir, para polisi itu pergi. Barulah setelah itu, dr. Kevorkian bisa beraksi.
Menurut pengamatannya, dalam menghadapi ajal ada pasien yang riang bahkan bercanda, tapi umumnya sedih. Mereka berbaring sambil bergumam; biasanya sebelum ‘berangkat’ mereka mengatakan sesuatu. Dari semua kasus yang paling sulit adalah kasus Judith Curren. “Bukan karena penyakitnya, tapi karena hubungan kami yang bertahun-tahun sudah telanjur erat,” ujar dr. Kevorkian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar